oleh

Pemilihan Rektor Unsrat Manado Curang!

MANADO, mejahijau.com – Pemilihan Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Rabu, 20 April 2022, berlangsung curang. Cara berdemokrasi untuk memilih siapa top-leader di kampus kebanggaan warga Sulawesi Utara (Sulut) ini, justru dinilai tak mencerminkan intelektualitas lasimnya sebuah kampus.

Muncratnya dugaan kecurangan pada pemilihan Rektor Unsrat Manado, diungkapkan salah satu peserta calon rektor Dr Flora Kalalo SH MH saat diwawancarai redaksi mejahijau.com.

“Curang!,” ketus Flora Kalalo.

Mantan Dekan Fakultas Hukum Unsrat Manado ini mengatakan, kecurangan terjadi pada prosesi pemilihan itu sendiri. Dan indikasi kecurangannya sangat kentara dan terjadi di hadapan publik.

Flora Kalalo menyebut, kecurangan terkait dengan proses pemilihan suara yang diraih dirinya.

“Suara saya itu – cuma soal pencontreng yang tidak disepakati oleh ‘Penas’. Dan (suara memilih saya) dibatalkan, (karena) dianggap tidak sah. Sementara ada (calon) lain,– yang juga salah contreng, (justru) diklaim sah!,” ungkap Flora..

Menurut Flora Kalalo, ‘kecurangan’ yang terjadi itu adalah sangat merugikan pihaknya. Dan itu terjadi didepan khalayak dimana semua mata sedang mempelototinya.

Putaran pertama hasil pemilihan rektor, Ir Dedie Tooy meraih 29 suara, Prof Dr Ir Fabian J Manoppo MAgr rebut 13 suara, sementara Dr Flora Kalalo SH MH dengan Prof Dr Ir Grevo S Gerung MSc sama-sama meraih 11 suara.

Karena Flora Kalalo dan Grevo Gerung meraih suara sama banyaknya, maka keduanyadiharuskan menggelar pemilihan ulang khusus dua calon tersebut.

Singkat cerita, hasil pemilihan ulang Grevo S Gerung meraih suara terbanyak 47 suara, mengalahkan Flora Kalalo yang hanya memperoleh dukungan 21 suara.

Hemat kubu Flora Kalalo, kekalahan dikarenakan kecurangan yang terjadi pada putaran awal pemilihan rektor. 1 suara penentu yang seharusnya milik Flora Kalalo, justru dianulir dengan klaim rusak.

“Ibu Flora Kalalo seharusnya meraih 12 suara, bukan 11 suara. Dan seharusnya sudah masuk pada putaran berikut pemilihan rektor Unsrat Manado,” ungkap seorang dosen dari kubu mantan Dekan Fakultas Hukum Unsrat Manado ini.

Namun karena dugaan kecurangan itulah sehingga pupus sudah harapan Flora Kalalo melaju pada putaran berikut menjadi Rektor Unsrat Manado.

“Dan kecurangan terhadap Ibu Flora Kalalo, sebenarnya sudah menjadi bukti sekaligus sebagai tanda awas bagi semua pihak,” ungkap sumber.

Kubu Flora Kalalo-pun me-warning hati-hati dengan intervensi pihak tertentu yang berpotensi mencoreng nama baik dunia pendidikan di Sulut khususnya dari ajang pemilihan rektor Unsrat Manado.

Hiruk pikuk pemilihan orang nomor 1 di kampus Unsrat Manado ini, ternyata mendapat perhatian serius dari LSM Inakor Sulut yang dipimpin Rolly Wenas.

Ketua Inakor Sulut ini mengimbau jangan ada pihak yang menodai demokrasi di Unsrat dengan kepentingan politik partai apapun.

“Biarlah demokrasi di Unsrat berjalan secara alamiah sebagaimana adanya. Jangan sampai ada intervensi dari kekuatan politik manapun, mari kita jaga kemurnian kampus dengan menghormati cara mereka berdemokrasi,” kata Rolly Wenas.

Pihaknya juga mengingatkan kemungkinan adanya calon rektor boneka buah karya dari penguasa daerah ini.

“Ada salah satu calon yang ramai dipergunjingkan masyarakat sebagai titipan dari oknum penguasa dan pengusaha tertentu. Hal ini kan tidak seharusnya ada, karena potensi merusak citra kampus oleh susupan kepentingan politik,” tandasnya.

Dan untuk sementara, hasil pemilihan rektor Unsrat Manado menyisahkan tiga calon rektor laki-laki, masing-masing, Ir Dedie Tooy MSi PhD, Prof Dr Ir Fabian Manoppo M.Agr, dan Prof Dr Ir Grevo S Gerung MSc.

Dan tiga calon rektor wanita lainnya tersisihkan, yakni, Dr Flora Kalalo SH MH, Prof Dr Vennetia R Danes MSc PhD, dan Prof DR Dr Grace Debbie Kandou MKes.(*/tim redaksi)