oleh

Guru di Kawangkoan Nyaris Tertipu, Wajib Setor 7,5 Juta Dilantik Kepsek

TONDANO, mejahijau.com – Seorangguru di wilayah Kawangkoan, Kamis, 14 Mei 2020 pagi, kedatangan tamu tak dikenal.

Adapun sang tamu bertujuan menawarkan sang guru untuk menjadi Kepala Sekolah (Kepsek) di salah satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah Minahasa.

Sontak tawaran untuk menjadi Kepsek tidaklah gratis. Sang guru wajib setor uang Rp 7,5 juta secara tunai.

Kejadian tersebut diungkapkan oleh guru yang namanya enggan dipublikasi wartawan media ini.

Kisahnya, pagi hari itu, Sang Guru hendak pergi ke pusat pertokoan Kawangkoan untuk suatu urusan. Tiba-tiba dihadapannya muncul dua orang tak dikenal mengaku dari Dinas Diknas Pemkab Minahasa.

Keduanya menawarkan jika berkenan jadi Kepala Sekolah (Kepsek), tetapi persyaratan wajib diselesaikan hari itu juga.

Baca juga:  Heboh, 'Mafia BBM’ di SPBU Milik Olly Dondokambey

“Lantaran keperluan mendesak, pembicaraan dilanjutkan di salah satu rumah kopi yang terletak di pusat pertokoan Kawangkoan,” tutur sang guru yang mewanti wanti identitasnya ditutup rapat.

Setibanya di rumah kopi, Ia curiga maksud dan tujuan dua oknum tersebut. Tetapi pembicaraan berlanjut sembari menikmati secangkir kopi panas dan biapong santapan khas kota Kacang, Kawangkoan.

“Mereka mengaku sedang bertugas mengunjungi guru-guru yang menjadi calon menjabat kepala sekolah,” ungkap sang guru yang nyaris tertipu.

Hasil pembicaraan, misalkan sang guru sepakat jadi Kepsek, tandas salah satu oknum, maka hari itu juga wajib setor uang sebesar Rp 7,5 juta dengan jaminan segera dilantik menjadi Kepsek.

Baca juga:  Suap Hakim di Vonis Ringan, KPK Ngotot Ajukan Kasasi Nurhadi

Merasa tawarannya tak mendapat respon positif, maka keduanya pun minta permisi untuk pergi karena asalan ada urusan lain yang harus diselesikan.

Kepada redaksi mejahijau.com, sang guru menuturkan, andai benar pimpinan memberi tanggungjawab maka segala sesuatu akan diterima dengan mengucap syukur namun tidak harus menyetor segepok uang. Alasannya, tidak perlu ada setoran supaya tidak terkesan ada jual beli jabatan Kepala Sekolah.

Sang guru mengaku sangat heran, kenapa dua oknum tersebut tahu alamat kediamannya, bahkan mereka meyakini kalau dirinya bakal menjabat Kepsek.

“Saya curiga ini penipuan, makanya saya tidak cepat-cepat percaya. Apalagi terbuai untuk menyetor uang dengan jumlah yang diminta,” katanya.

Hingga berita ini terexpos, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Minahasa belum berhasil dikonfirmasi wartawan media ini. Bahkan Sekretaris Dinas Dikbud Tommy Wuwungan dikonfirmasi via ponsel dalam keadaan tidak aktif.(ferry lesar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed