oleh

Kepsek SD Inpres Kiawa Tepis Dugaan Penyelewengan Dana BOS

TONDANO, mejahijau.com – Dugaan kasus penyelewengan Dana BOS terancam mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Minahasa. Dugaan kasus kali ini yang disorot, yakni pengelolaan Dana BOS di SD Inpres Kiawa Kecamatan Kawangkoan Utara. Berdasar informasi yang dirangkum wartawan media ini, beberapa tahun belakangan Kepsek SD Inpres Kiawa sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) diindikasikan selewengkan Dana BOS.

“Kepala Sekolah tidak transparan mengenai realisasi Dana BOS. Begitu pula, tidak ada bukti laporan pembelian kebutuhan yang diperlukan dari dana BOS,” tutur sumber kepada mejahijau.com barusan ini.

Lebih lanjut dikatakan, sejumlah kebutuhan ATK yang harus dibeli, buku, penggaris, kapur, spidol, kertas dan lainnya tetapi entah kenapa Kepsek seolah tak mengacuhkannya. Padahal, setiap tahun terhitung ada 4 tahapan pencairan Dana BOS untuk setiap sekolah SD.

Baca juga:  Sion Sentrum Sendangan Siap Sambut Peserta PSR GMIM 2019

“Kalau seperti itu, Diknas mungkin perlu segera mengambil sikap. Sebab banyak guru lain dapat menjadi Kepsek yang masih berbobot dan tidak merugikan dunia pendidikan. Pasalnya kalau ada penyelewengan, itu akan berdampak pada murid yang sedang menuntut ilmu,” kata sumber itu lagi.

Kepsek SD Inpres Kiawa Hennie Najoan S.Pd ketika dikonfirmasi mengaku kaget mendengar informasi tersebut. Kepada wartawan Kepsek Henny balik mempertanyakan asal sumber informasinya.

Tingkah Kepsek kelihatan tak lasim mungkin pertanda belum siap dikonfirmasi wartawan terkait pengelolaan Dana BOS di sekolah yang dipimpinnya. Anehnya Henny lalu lalang kesana-kemari di dalam ruangan seolah berusaha meyakinkan pihaknya tak terlibat atas informasi penyelewengan Dana BOS.

Baca juga:  STOP Polemik Pilpres, Real Count-nya Tunggu KPU

Henny kemudian memaparkan besaran Dana BOS yang diterima sekolahnya. Nilainya terbilang kecil dan tak sebanding dengan kebutuhan sekolah. Pun totalnya hanya Rp 48 juta. Dan itu diperuntukan pada biaya adminsitrasi, guru honor, dan semua peralatan sekolah.

“Belum lagi uang transport pulang-pergi rapat di kantor Diknas, dan lain-lain,” kata Henny di ruang kerjanya.

Apalagi, tambah Kepsek yang tampak gelisah, pihak Inspektorat setiap tahun turun melakukan pemeriksaan. Dan sejauh ini tidak ada temuan seperti yang diindikasikan itu.(ferry lesar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed