oleh

Wabup John Palandung Larut Gembira bersama Grup Musik Bambu Binaannya

ULU, mejahijau.com – Musik Bambu memiliki nilai seni yang tinggi. Meski pun musik bambu terbuat dari bahan-bahan sederhana, namun alat musik tradisionil masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe ini mampu menyesuaikan dengan semua nada musik.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Kepulauan Sitaro, Drs John H Palandung MSi di depan rumah dinasnya, saat menjamu kedatangan grup Musik Bambu dari Kampung Mala Hiung, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

“Dari dulu saya memang suka dengan musik bambu. Musik bambu dapat memberikan spirit dan semangat kepada kita yang mendengarnya,” kata Wabup John, bahwa musik bambu mutlak harus dilestarikan.

Grup Musik Bambu dari Kampung Mala Hiung ini, sebenarnya grup musik binaan Wabup John Palandung.
Semasa bertugas sebagai Camat Manganitu, grup musik bambu ini sering didatangi John saat dirinya miliki waktu senggang.

Baca juga:  Pedagang Mendesak Pasar Esa Waya Kawangkoan Segera Dibuka Kembali

Hal itu semasa John H Palandung bertugas sebagai Camat Manganitu, Kabupaten Sangihe, puluhan tahun silam. Hematnya, alat musik tradisionil rakyat Nusa Utara ini mutlak harus dilestarikan sesegera mungkin.

“Kedatangan grup musik bambu ini merupakan reuni masyarakat Manganitu karena Wakil Bupati Sitaro kami ini, dulunya pernah bertugas sebagai Camat Manganitu,” ungkap Haman P Kasenda via akun media sosialnya, Jumat, 26 Juli 2019.

Masyarakat Kepulauan Nusa Utara yang terdiri dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro, kabarnya telah mengenal musik bambu tradisional sejak tahun 1700-an.

Musik bambu adalah alat hiburan masyarakat biasanya dimainkan setelah melakukan aktivitas seharianan.
Berbagai penyempurnaan membuat musik bambu menjadi musik bergengsi yang diminati.

Berbagai acara tertentu semisal penyambutan tamu penting, perkawinan, duka, atau ritual adat, musik bambu memiliki peran sangat penting.

Baca juga:  ‘Back-up’ Kampung Tangguh, 30 Personil Polres Sangihe Terima ‘Reward’

Ciri khas musik bambu tradisional Sangihe seluruh peralatannya terbuat dari bambu. Sejarahnya memang musik bambu sejak zaman purbakala sudah ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro.

Satu grup musik bambu tradisional biasanya terdiri dari beberapa alat tiup, antaranya, suling kecil, suling besar, korno.

Korno berfungsi sebagai pengiring melodi yang dimainkan suling kecil dan klarinet. Korno terdiri dari nada tinggi dan korno nada rendah, masing-masing tiga jenis, yakni re-mi-fa, do-si-la, dan korno sol).

Sedangkan suling besar yang mengikuti irama suling kecil berfungsi sebagai penghalus nada sehingga terdengar lembut.

Berikut ada trombone (sexaphone), “kontra bas” dan “bas” yang dimainkan layaknya musik tiup lainnya. Setelahnya musik bambu diperkuat dengan suara background drum jes-nya.(arya/vanny)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed