oleh

Antisipasi DBD dan Rabies, Walikota Bitung Harapkan Kerjasama Masyarakat

BITUNG, mejahijau.com – Meningkatnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) serta gigitan hewan atau Rabies di beberapa wilayah Kota Bitung mendapat perhatian serius Pemerintah Kota Bitung.

Walikota Bitung Maximiliaan J Lomban mengatakan, peningkatan kesehatan masyarakat adalah salah satu program prioritas Pemerintah Kota Bitung selain Pendidikan dan pembangunan Infrastruktur.

Berbagai upaya terus dilakukan lewat dinas terkait guna memaksimalkan pelayanan kesehatan yang merata kepada masyarakat di delapan kecamatan.

Namun, semua program itu tak akan berjalan baik jika tanpa ada dukungan serta kerjasama seluruh elemen masyarakat di Kota Bitung.

“Semua pihak harus membangun kerja sama menangani permasalahan ini, baik pemerintah maupun masyarakat,” kata Walikota Lomban.

Baca juga:  Kecamatan Kakas Barat Gelar Pelatihan Penggunaan APD Relawan Covid-19

Meningkatnya penyakit DBD, Lomban mengungkapkan, penyebabnya karena kurangnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Padahal pemerintah melalui aparat kelurahan terus mensosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih.

“Menjaga kebersihan tidak hanya satu atau dua rumah saja. Melainkan satu lingkungan secara bersama-sama,” jelasnya.

Penyakit DBD disebabkan nyamuk Aides Aegypti. Dia mampu terbang sejauh 20 meter. Jadi, jika hanya satu atau dua rumah saja yang bersih, itu tidak menjamin penghuninya tidak terkena dampak penyakit ini.

Sementara untuk meminimalisir penularan Rabies, Lomban menjelaskan perlu adanya penanganan pemilik-pemilik hewan tersebut.

Dinas Kesehatan Kota Bitung telah mengupayakan penanganan lewat suntikan anti Rabies kepada masyarakat yang digigit hewan.

Baca juga:  Pemkot Bitung Tercepat Penandatanganan Naskah Hibah Pilkada 2020

Adapun data Dinas Kesehatan Kota Bitung untuk penyakit DBD dan Rabies tiga tahun terakhir sebagai berikut: Penyakit DBD 2017 berjumlah 117 kasus, tahun 2018 sebanyak 197 kasus.

Terakhir tahun 2019, selang Januari 58 kasus, Februari 46 kasus, Maret 13 kasus, April 9 kasus, Mei 5 kasus, Juni 7 kasus. Korban yang meninggal anak-anak berjumlah 5 orang.

Sementara Data Gigitan Hewan Penular Rabies, yakni 2017 mencapai 390 kasus, 2018 sejumlah 520 kasus.
Selang tahun 2019, mulai Januari 44 kasus, Februari 58 kasus, Maret 39 kasus, April 46 kasus, Mei 58 kasus, Juni belum masuk data resmi yang dapat diumumkan.(herry dumais)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed