MANADO, mejahijau.com – Pernah terjadi kesalahan pada dunia pendidikan kita. Itu terjadi pada saat mata pelajaran Pancasila yang diajarkan di sekolah-sekolah selama puluhan tahun tiba-tiba saja dihapus. Padahal kita telah sepakat bahwa Pancasila adalah sebuah filosofi dasar sebuah kebenaran bernegara di Indonesia.

Hal itu diungkapkan akademisi Karel Najoan pada diskusi Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 di Ruang FJ Tumbelaka, Kantor Gubernur, Jumat (31/05/2019) sore.

Baca juga:  Aksi Donor Darah PMI Minsel Paling Aktif di Sulut

“Saya anggap sebuah kesalahan ketika materi pelajaran Pancasila dihapus. Saya ingin katakan, bahwa Pancasila adalah sebuah proses yang ada di dalam diri manusia-manusia Indonesia kemudian sepakat menjadi ideologi negara,” papar Najoan.

Namun yang terjadi sekarang, pengaruh pragmatisme yang masih begitu kuat sehingga kita lebih mengutamakan nilai kuantitatif berdasarkan suara terbanyak.

Pemahaman tentang isme atau pola berpikir sekarang menjadi pendekatan teritorial. Negara tertentu melihat penguasaan teritorial lain barangkali mutlak harus dilakukan karena alasan-alasan tertentu.

Baca juga:  Lomban: Umat Islam Patut Teladani perilaku Nabi Muhammad SAW

Karel Najoan memaparkan, generasi muda sekarang ini gampang terkontaminasi dengan ideologi lain. Kalangan mahasiswa kita banyak yang terperangkap dengan pola kapitalisme.

Di era terkini tidak ada konsep yang jelas dan baku. Bahkan perebutan kekuasaan terjadi sporadis di segala lini.
Diskusi dibuka Asisten 1 Edison Humiang, menghadirkan narasumber akademisi Philep Regar dan Ferry Liando, dengan moderator dituntun Abid Takalamingan.(arya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed