Wangke: BMI Ormas Adat tanpa Memandang Perbedaan

MANADO, mejahijau.com – Pelaksanaan Apel Adat Wangko dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Tonaas Brigade Manguni Indonesia (DPT BMI) periode tahun 2018-2020 di Lapangan Tikala, Kota Manado, Jumat (24/08/2018), berlangsung penuh khidmat.

Bertindak selaku Walian Wangko Renata Ticonuwu, mengukuhkan secara adat Lendy RE Wangke sebagai Tonaas Wangko BMI bersama puluhan Dewan Pimpinan Tonaas (DPT) organisasi tersebut.

Ritual pengukuhan dan pelantikan dipimpin Walian Wangko Renata Ticonuwu dengan bahasa daerah diikuti terjemahan bahasa Indonesia.

Walian Wangko Renata Ticonuwu menyerahkan tongkat adat komando kepada Tonaas Wangko BMI yang baru.

Setelah itu dilakukan prosesi penyerahan tongkat adat komando BMI kepada Lendy RE Wangke pertanda disahkannya sebagai Tonaas Wangko BMI.

Setelah sah dilantik melalui pengukuhan adat, Tonaas Wangko yang baru langsung menjadi inspektur upacara dan turun mengecek kesiapan pasukan peserta apel.

Kesempatan menyampaikan amanatnya, putra Tondano ini mengungkapkan, setelah 16 tahun BMI sebelumnya Brigade Manguni lahir dari himpitan intoleransi bersama anarkisnya gerakan radikalisme.

Walian Wangko Renata Ticonuwu kibarkan pataka BMI simbol kepengurusan yang baru mulai bertugas.

“BMI menentang intoleransi dan radikalis di negara ini, Kita satu-satunya ormas adat yang diakui pemerintah dan tercatat di Kemendagri. Organisasi ini juga satu-satunya organisasi adat yang terbuka kepada siapa saja tanpa memandang suku, agama dan ras,” ujar Wangke.

Kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota dari tingkat Wanua, Walak, DPD, DPW, hingga DPT diminta berperan aktif mendorong percepatan pembangunan.

Tonaas Wangko yang baru dikukuhkan secara adat dikawal ketat pasukan adat BMI.

“Mari kita semua berpegangan tangan untuk mengisi pembangunan bersama pemerintah. Setuju!,” cetus Lendy langsung direspon seluruh peserta dengan kata “Setuju!”.

Lanjut dikatakan, ormas adat BMI didirikan bukan hanya milik rakyat Sulawesi Utara saja melainkan sudah menjadi milik Indonesia.

“BMI milik semua anak bangsa. Oleh karena itu, BMI adalah satu untuk Indonesia. Pancasila dan NKRI adalah harga mati!,” cetusnya lantang.

Hadir mewakili Gubernur Sulawesi Utara, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sulawesi Utara Meky Onibala, Kadis Kebudayaan Fery Sangian, unsure TNI dan Polri, serta tokoh agama.

Selain itu hadir juga segenap ormas adat serta tokoh pemuda lainnya.

Mewakili gubernur Sulut, Kabadan Kesangpol Onibala mengatakan, BMI bagian tak terpisahkan dengan kesatuan gerak bangsa Indonesia yang mendiami bumi Pancasila. Eksistensi ormas adat ini hingga hari ini mampu mengawal dan memainkan peran strategis dalam konsep pembangunan daerah serta bangsa.

“Oleh karena itu, patut diapresiasi dan harus terus dimantapkan segenap komponen BMI,” katanya.

Seusai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan balon udara dan burung merpati sebagai simbol menyampaikan pesan perdamaian.

Bersama Kabasaran ditampilkan pertunjukan Barongsai dan kesenian adat Minahasa lainnya.(vanny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *