oleh

20 Tahun Reformasi Indonesia

HARI INI, 21 Mei 2018 genap usia 20 tahun Indonesia memasuki era reformasi. Tepatnya pada hari ini 21 Mei 1998, kekuasaan Presiden Soeharto beserta antek-anteknya berakhir.

Diawali sepuluh tahun terakhir rezim Soeharto, Indonesia mulai dilanda krisis politik. Semua kegiatan politik mutlak harus ditandai kemenangan Golkar. Terakhir pada Pemilihan Umum 1997 yang dinilai penuh kecurangan.

Jenuh dengan sistem pemilihan rakyat yang tak merakyat, segenap tokoh politik beserta para akademisi sepakat keluar dari kejenuhan 31 tahun pemerintahan Soeharto.

Rakyat-pun angkat suara. Mahasiswa dimana-mana orasi perubahan. Mereka mendesak secepatnya reformasi dalam struktur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tak tahan desakan rakyat yang semakin kuat, akhirnya Soeharto umumkan pengunduran dirinya dari jabatan Presiden Republik Indonesia, pada hari Kamis, 21 Mei 1998.

Tercatat ada enam agenda reformasi yang disuarakan para mahasiswa, yakni Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Laksanakan amandemen UUD 1945, Hapus Dwi Fungsi ABRI, Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya, Tegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan bersih dari KKN.

Terjungkalnya rezim Soeharto dari kekuasaan, menariknya seliweran empat versi, yaitu versi Habibie, Wiranto, Prabowo, SBY yang kesemuanya berbeda-beda. Bahkan lengsernya Soeharto hingga kini menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Baca juga:  Projo Sulut Bagi-bagi Sembako kepada para Janda dan Lansia

Perjalanan panjang Soeharto bersama gerbong orde baru-nya terbilang mampu melaksanakan pembangunan. Rakyat yakin ada perubahan. Kepercayaan sontak membludak baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Awal kepemimpinan hingga tahun 1970-an, rakyat memang sangat menderita oleh karena ekonomi sedang porak-porandanya. Namun perlahan tapi pasti, para pemikir orde baru yang ditukangi CSIS meraih keberhasilan melalui program pembangunan lima tahun (Pelita).

Sedikit demi sedikit kemiskinan rakyat dientaskan. Rakyat percaya Soeharto sebagai pahlawan pembela rakyat. Sebagai tanda terima kasih dari rakyat, maka Soeharto ditetapkan sebagai “Bapak Pembangunan”.

Hanya saja, keberhasilan yang tampak ternyata kurang merata. Kemajuan Indonesia mulai kentara hanya semu belaka. Tampak kesenjangan sosial menjulang antara si kaya dan mereka yang miskin.

Belakangan rakyat tahu kalau pengelolaan negara banyak ketimpangan. Rakyat mulai curiga pemerintahan orde baru tidak sehat. Gejalanya ditandai merajalelanya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di banyak lini.

Rakyat mulai memprotes. Kritik pedas dari masyarakat meluncur deras. Orde baru enggan menggubris. Terkesan pemerintah tak melihat, tak dengar, dan seolah-olah tak ada apa-apa. Bahkan rakyat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dikriminalisasi. Aktivis terseret kategori ekstremis, subversi, pembangkang, pemberontak, disertai berbagai tuduhan memojokan lainnya.

Baca juga:  Pimpin Apel Perdana, Bupati Pontoh Dorong Kerjasama dengan Universitas Negeri Gorontalo

Sehari sebelum mengundurkan diri, pada hari Rabu 20 Mei 1998 Soeharto berupaya menggantikan Kabinet Pembangunan VII dengan nama Kabinet Reformasi. Hanya saja upaya Soeharto yang dimotori Harmoko tak digubris ribuan elemen masyarakat yang terlanjur jenuh juga marah.

Singkatnya pasca kepemimpinan Soeharto, berturut-turut pada era reformasi dipimpin Presiden BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Hanya saja, dari enam agenda reformasi yang digaungkan keras, relatif hanya empat saja yang dilaksanakan.

Sementara dua agenda reformasi yang paling sulit dilaksanakan, yakni Penegakkan supremasi hukum, Ciptakan pemerintahan bersih dari KKN, sangat getol dilaksanakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Jokowi sangat serius memberangus praktek korupsi, kolusi, nepostisme. Bersama kabinetnya, Presiden Jokowi tak henti-hentinya menemukan formulasi pemerintahan yang bersih dari KKN.

Hebatnya Jokowi berdiri tegak sebagai ksatria atas penegakkan hukum yang diharapkan rakyat Indonesia. Pelak saja kalau pemerintahan Jokowi semakin populer karena berhasil memantapkan dua agenda reformasi yang teramat pelik.(penulis adalah columnist*)

BERITA LAIN: 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed