oleh

Puluhan Sangadi Bolsel Studi Banding ke Desa Sukamanah

MOLIBAGU, Meja Hijau – Puluhan Sangadi (Kepala Desa) se – Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) melakukan studi banding di Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa sampai Rabu (19-20/2017).

Di Desa Sukamanah mereka belajar pengelolaan ekonomi dan bisnis desa. Seperti diketahui, Desa Sukamanah merupakan desa terbaik se – Indonesia dalam pengelolaan Badan Urusan Milik Desa (BUMDes). Tahun 2017 saja, Desa Sukamanah berhasil mengelola Dana Desa (Dandes) sebesar Rp 2,4 miliar.

Sebagai daerah yang baru, tentu Bolsel harus banyak belajar tentang pengelolaan hal-hal yang berhubungan dengan BUMDes, seperti pengelolaan sanitasi dan air bersih, pasar desa, koperasi simpan pinjam, dan sebagainya.

Baca juga:  Sesuai Protokol Kesehatan, Warga Desa Sendangan Satu Terima BLT

“Hal-hal itu yang menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) khusus di desa kami,” ucap Ismail, Kepala Desa Sukamanah ditirukan Kabag Humas Setdakab Bolsel, Ahmadi Modeong, Rabu (20/12/2017).

Kata dia, isntalasi air bersih sudah menggunakan meteran mirip Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengairi 1.500 Kepala Keluarga (KK). Kemudian pasar desan memiliki 107 kios di atas lahan 9.300 hektar dengan sistem penyewaan. “PADes kita mencapai Rp 229 juta pertahun,” terangnya.

Diharapkan kehadiran para Sangadi dari Bolsel benar-benar bermanfaat bagi desannya nanti. Apa yang didapatkan bisa diaplikasikan untuk memajukan daerah Kabupaten Bolsel umumnya.

Baca juga:  Nonton Bareng Final Piala Dunia, AJP Bagikan Doorprice Menarik

Memanfaatkan semua peluang di desa yang bisa dijadikan menjadi PAD, mengingat membangun desa adalah program pemerintah pusat.

“Diharapkan kehadiran dapat meningkatkan pengetahuan terkait BUMDes, khususnya meningkatkan ekonomi kerakyatan,” jelas Modeong.

Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Basri Sutrimo, mengatakan, ada 62 orang peserta yang berangkat baik itu Sangadi maupun Perangkat Desa dan unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

“Ada juga yang belajar di Geospasial Bogor, memperoleh gambaran tentang tata cara penegasan batas desa melalui titik koordinat,” kata Basri.

Anggaran stuid banding bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) yang dianggarkan untuk perjalanan dinas luar daerah.(uyo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed